Minggu, 10 Oktober 2010

product

PT Aditec Cakrawiyasa, Membangun Industri Kompor Gas Dimulai dari Sebuah Garasi Mobil

Profil UMKM  Tagged , Juni 15th, 2010 Industri kompor gas di dalam negeri masih terhitung industri yang belum lama berkembang di tanah air. Walaupun produk kompor gas sendiri sudah cukup lama dikenal masyarakat di Indonesia, namun industri nasional yang menggeluti bidang manufaktur kompor gas baru muncul sekitar pertengahan dekade 1990-an. Kemunculan industri kompor gas pada masa-masa tersebut dapat dikatakan menghadapi tantangan yang cukup sulit karena pada kenyataannya pasar domestik ketika itu sudah dikuasai oleh produk-produk kompor gas buatan negara lain.
200808297
Namun demikian, kondisi tersebut tidak membuat para pelaku usaha di dalam negeri menjadi gentar. Bahkan sebaliknya dengan berbekal rasa percaya diri dan nasionalisme yang tinggi ditambah dengan semangat kerja keras serta inovasi tanpa henti, sejumlah perusahaan nasional mencoba membangun industri kompor gas nasional agar dapat mensubstitusi produk impor. Sejumlah merek kompor gas buatan dalam negeri pun mulai bermunculan meramaikan pasar kompor gas yang selama ini dikuasai merek-merek asing.
Salah satu produsen kompor gas nasional yang lahir di tengah kerasnya persaingan produk kompor gas asing adalah PT Aditec Cakrawiyasa. Perusahaan yang sejak berdirinya sudah memfokuskan diri memproduksi kompor gas hasil rancang bangun sendiri dengan menggunakan merek yang juga milik sendiri, yaitu Quantum. Dengan mengembangkan kegiatan riset dan inovasi sendiri PT Aditec Cakrawiyasa mampu menempatkan dirinya menjadi salah satu pemain produk kompor gas nasional yang cukup handal di pasar dalam negeri dan mampu bersaing dengan produk-produk serupa buatan negara lain.
PT Aditec Cakrawiyasa didirikan pada tahun 1993 oleh empat sekawan Rawono, Noto, Sahrul dan Yatno. Sejak awal didirikannya, perusahaan sudah bertekad untuk memfokuskan diri dalam memproduksi kompor gas. Tekad tersebut muncul sebagai jawaban atas keprihatinan dari keempat pendiri perusahaan itu terhadap kenyataan di masyarakat ketika itu dimana pasar dalam negeri sepenuhnya dikuasai oleh dua merek kompor gas impor, yaitu Rinnai (buatan Italia) dan Hitachi (buatan Jepang).
Benak para pendiri perusahaan itu selalu dihinggapi pertanyaan mengapa bangsa besar seperti Indonesia membuat kompor gas saja tidak bisa, sehingga harus tergantung kepada pasokan kompor gas dari negara lain. Pertanyaan itulah yang kemudian menggiring para pendiri PT Aditec Cakrawiyasa untuk bersepakat mendirikan perusahaan yang memproduksi kompor gas.
Dengan modal awal yang cukup pas-pasan, perusahaan segera mengadakan riset pembuatan kompor gas. Kegiatan riset itu pun dilakukan secara sederhana di tempat yang juga cukup sederhana, yaitu dimulai dari sebuah garasi mobil. Kegiatan riset itu diawali dengan mempreteli/menguraikan produk kompor gas buatan Italia dan Jerman menjadi komponen-komponen yang saling lepas. Setiap komponen kompor gas itu kemudian diteliti dan dipelajari struktur dan mekanisme kerjanya.
2008082913
“Setelah kami mempelajari setiap komponen kompor gas secara seksama akhirnya kami putuskan bahwa kami bisa membuat kompor gas sendiri. Kemudian kami pun membangun pabrik kompor gas di Cikupa, Tangerang pada tahun 1994. Dengan cepat produk kompor gas merek Quantum buatan kami berhasil merebut hati konsumen di dalam negeri. Berkat sambutan antusias konsumen domestik itulah produksi kompor gas PT Aditec Cakrawiyasa terus meningkat. Pada tahun 1996 produksi kompor gas kami sudah mencapai 300.000 unit per tahun,” kata Rawono Sosrodimulyo, Komisaris PT Aditec Cakrawiyasa.
Sambutan konsumen domestik itu cukup beralasan. Sebab, produk kompor gas Quantum memiliki kualitas yang tidak kalah dibandingkan produk kompor gas impor. Sementara dilihat dari harga jualnya, produk kompor gas Quantum jauh lebih murah dibandingkan dengan produk kompor gas impor. Sebagai perbandingan, produk kompor gas Quantum dengan dua mata tungku di pasar domestik ketika itu dijual dengan harga Rp 300.000 per unit, sedangkan produk serupa buatan impor dijual dengan harga yang jauh lebih mahal, yaitu minimal Rp 700.000 per unit.
Namun itu saja tidak cukup, suatu ketika Menristek Kusmayanto Kadiman menantang PT Aditec Cakrawiyasa untuk memproduksi kompor gas yang harganya lebih murah dibandingkan dengan kompor gas buatan China. Rawono menanggapi tantangan Menristek itu dengan mempelajari kompor gas buatan China. Ternyata kompor gas buatan China bisa dijual dengan harga murah karena produk tersebut dibuat dari scrap (besi/baja bekas atau sisa) sehingga banyak membutuhkan komponen skrup. Sementara komponen burnernya dibuat dari besi cor.
“Kita kemudian melakukan riset dan hasilnya dituangkan dalam produk kompor gas yang mutunya lebih baik tapi harga lebih murah. Kita mampu membuat kompor gas yang hanya menggunakan delapan skrup, sedangkan kompor gas buatan China menggunakan 48 skrup. Burnernya yang kita buat juga lebih baik karena dibuat dari stainless steel namun harganya tetap bersaing,” kata Rawono.
2008082923
Dengan kemampuan untuk memproduksi kompor gas dengan kualitas standar dunia dan dengan biaya produksi yang kompetitif, produk kompor gas PT Aditec Cakrawiyasa telah banyak mendapatkan kepercayaan dari para konsumen, baik di dalam maupun di luar negeri. Pada tahun 2007 lalu perusahaan ini berhasil meraih kontrak pengadaan kompor gas satu mata tungku dari Pertamina (dalam rangka pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas LPG) sebanyak 2 juta unit dengan harga per unit yang kompetitif, yaitu Rp 48.500. Pada tahun 2008 PT Aditec Cakrawiayasa kembali mendapatkan kontrak pengadaan kompor gas satu mata tungku dari Pertamina sebanyak 2,2 juta unit.
Saat ini PT Aditec Cakrawiyasa memiliki kapasitas produksi kompor satu mata tungku sebesar 300.000 unit per bulan atau sekitar 3,6 juta unit per tahun. Dengan demikian kontrak pengadaan 2,2 juta unit kompor satu mata tungku itu baru memenuhi 60% dari kapasitas produksi perusahaan tersebut.
Selain memproduksi kompor gas, PT Aditec juga memproduksi peralatan rumah tangga lainnya seperti rice cooker, blender dan regulator kompor gas dengan merek yang sama, yaitu Quantum. Bahkan, masih dalam rangka pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas LPG ini, PT Aditec juga mendapatkan kontrak pengadaan regulator kompor gas dari Pertamina sebanyak 1 juta unit pada tahun 2008.
“Kami juga telah memperluas investasi kami dengan membangun pabrik tabung LPG senilai Rp 11 miliar. Kami harapkan pabrik tabung LPG tersebut sudah bisa berproduksi pada tahun 2009 dengan kapasitas produksi 600.000 unit per tahun,” kata Rawono.
Rawono mengakui pelaksanaan program konversi minyak tanah ke LPG telah mendorong kalangan perusahaan yang bergerak dalam industri kompor gas dan perlengkapannya (tabung LPG, regulator, selang, valve dan lain-lain) meningkatkan investasi dan penyerapan tenaga kerja. PT Aditec Cakrawiyasa saja telah menambah karyawan sebanyak 1.000 orang sejak program konversi tersebut digulirkan. Kini perusahaan itu memiliki total karyawan sebanyak 1.500 orang yang bekerja di pabrik kompor gas, tabung LPG, regulator, rice cooker dan blender.

/arifh.blogdetik.com/pt-aditec-cakrawiyasa-membangun-industri-kompor-gas-dimulai-dari-sebuah-garasi-mobil/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar