Tampilkan postingan dengan label 2 profil wirausaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2 profil wirausaha. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Oktober 2010

profil wirausaha

Riana, Sukses Geluti Bisnis Mutiara

Entrepreneurship  Tagged , Agustus 17th, 2010 Menekuni bisnis perhiasan mutiara kualitas tinggi, dilakukan Riana Meilia sejak tahun 2000 lalu. Sebelumnya ia hanya bergerak di bisnis mabe pearl halfer, perhiasan mutiara setengah bulat, juga mutiara biasa kualitas rendah. Namun bisnis itu tidak bisa berjalan lancar, selain karena persaingan ketat juga karena yang datang padanya menuntut agar dia meningkatkan grade (kualitas) dari mutiaranya.
“Saya sulit menjual yang low grade, makanya beralih ke top quality. Ternyata, penjualan justru bagus,” ungkap Riana yang membutuhkan waktu dua tahun untuk mempelajari seluk-beluk mutiara, sebelum secara serius masuk ke bisnis ini.
Nyatanya, memburu mutiara berkualitas tidaklah mudah. Butuh ketekunan dan ketelatenan tersendiri. Beda dengan mutiara biasa yang lebih mudah mencarinya. Tapi justru di situlah tantangannya. Dan tentu saja, hasilnya pun sepadan. “Saya mulai bisnis kecil-kecilan perhiasan mutiara berkualitas tinggi, ternyata hasilnya bagus. Para penggemar mutiara sejati, justru mencari yang benar-benar berkualitas. Karena itu saya condong menekuni bisnis perhiasan mutiara berkualitas tinggi dan itu berkembang bagus sampai sekarang,” kata Riana yang produk perhiasannya sudah diekspor ke mancanegara.
Diakuinya, persaingan di bisnis perhiasan mutiara  ketat, karena itu selain  mencari mutiara berkualitas, ia juga harus selalu  inovatif produk, di antaranya,  desain. Inovasi produk, misalnya, perhiasan bukan hanya mutiara tapi juga kulit kerang yang dikombinasikan entah dengan mutiara atau dengan batu-batu alam. “Tapi bukan kulit kerang bisa, melainkan kulit kerang kualitas super,” ujarnya sambil memperlihatkan perhiasan kulit kerang dengan warna warna alami yang menarik.
“Warna-warna ini asli, tidak ada cutting. Warna-warna kulit kerang ini, kemudian saya matching kan dengan batu-batu alam Kalimantan,” jelasnya. Nilai jual semakin meningkat karena ada perak yang dilapis dengan emas putih.
Dalam melahirkan produk, Riana paling anti memproduksi secara masal dengan desain yang sama. Karenanya desain-desain perhiasan yang ditawarkannya selain unik juga tidak ada yang sama. Riana memang sudah memilih jalurnya di bisnis perhiasan mutiara ini, karenanya dia berusaha mempertahankan ekslusivitas dari produknya.  “Perhiasan model yang sama, memang paling saya hindari.  Saya lebih suka yang limited produk, tidak ada kembarannya,” tandasnya. (*/matabumi)

http://arifh.blogdetik.com/karpet-dan-alas-interior-dari-kayu-produksi-cv-natural/

profil wirausaha

Kisah Sukses Boy Hidayat Lubis

Entrepreneurship  Tagged , Agustus 17th, 2010 Terinspirasi dari praktik kerja di sebuah perusahaan telekomunikasi nasional ketika masih mahasiswa, kini Boy Hidayat Lubis menjadi pengusaha sistem telekomunikasi sukses lewat Tel-Access. Apa kuncinya?
Ketika keran izin untuk mengembangkan operator telekomunikasi di Tanah Air mulai dibuka Pemerintah Orde Baru pada awal 1990-an, Boy Hidayat Lubis melihatnya sebagai peluang bisnis yang menjanjikan. “Saya melihat peluang untuk menyediakan solusi software bagi operator-operator telekomunikasi yang baru berdiri itu sangat besar,” kata Boy.
Boy_Hidayat_LubisIde untuk mengembangkan bisnis muncul ketika ia sedang melaksanakan tugas kerja praktik di PT Gratika, salah satu anak perusahaan PT Telkom, pada 1993. Ketika itu, Telkom membeli teknologi voice responsedari Australia untuk sistem billing information, yakni sistem untuk mengetahui tagihan telepon rumah—sekarang dikenal dengan kode telepon 147. Kala itu, Boy yang masih mahasiswa semester VI Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung menemukan banyak sekali sistem softwareyang seharusnya bisa dikembangkan sendiri di Indonesia. Ia juga melihat aplikasi-aplikasi seperti itu sangat dibutuhkan oleh operator telekomunikasi di Tanah Air. “Saya sendiri bisa mengerjakan software-nya. Gampang kok. Dan, saya pikir itu bisa dijual,” ujarnya.
Ia pun memancangkan tekad, selesai program kerja praktik akan membuat perusahaan yang membidangi solusi untuk telekomunikasi. Untuk merealisasi niatnya tersebut, pria kelahiran Jakarta, 11 Juni 1970, ini mengajak tiga rekan kuliahnya. Maka, dibentuklah PT Teleakses Solusindo (kini dikenal dengan brandTel-Access) pada 1993. “Investasinya hampir tidak ada, karena modal yang dibutuhkan hanyalah skilluntuk mengerjakan software,” kata Boy, yang sekarang menjabat sebagai Preskom Tel-Access.
Proyek perdana Tel-Access datang dari Telkom, yaitu pembuatan calling card menggunakan teknologi yang sama, voice response.Di Amerika Serikat, layanan calling cardini sangat populer. Sayangnya, di Indonesia hanya bertahan sebentar. Sebab, muncul teknologi baru, yaitu berupa kartu telepon yang bisa dimasukkan ke dalam telepon umum. Yang membedakan, calling cardtidak perlu dimasukkan ke dalam pesawat telepon. Cukup memasukkan nomor kartunya, setelah itu sistem akan memberi tahu sisa pulsanya berapa atau bisa langsung melakukan dialke nomor tujuan. Calling cardinvestasinya lebih murah karena tidak perlu mesin telepon khusus. Ketika itu, proyek pengembangan calling cardini bernilai US$ 250 ribu atau sekitar Rp 500 juta (kurs saat itu Rp 2.000/US$).
Tahun 1994, boleh dibilang booming-nya industri telekomunikasi di Indonesia. Setelah Telkom dan Indosat, berikutnya muncul pemain-pemain baru, seperti Satelindo, Komselindo, Telesera, Ratelindo dan Excelcomindo Pratama (XL). Nah, ketika perusahaan operator seluler mulai bermunculan, salah satu kebutuhan utamanya adalah informasi billing. Peluang ini langsung disambar dengan cepat oleh Boy dan timnya dengan memperkenalkan solusi informasi billing.“Yang pasti, ketika perusahaan telekomunikasi berdiri, yang mereka perlukan adalah sistem yang bisa membantu customermenanyakan tagihan,” kata pengagum Steve Jobs ini.
Logikanya, setelah bertanya soal tagihan, pelanggan pasti butuh media untuk komplain. Jadi, mereka membutuhkan layanan contact center. Para operator tersebut menghubungi Tel-Access kembali untuk memasok sistem contact center. Pasalnya, mereka masih kesulitan mencari tenaga ahli lokal yang bisa mengembangkannya. Bahkan, vendor jaringan telekomunikasi raksasa seperti Lucent dan Nortel belum punya ahli softwareseperti itu di Indonesia. Mereka pun menggunakan Tel-Access untuk implementasi teknologinya. Menurut Boy, untuk layanan contact centerini, nilai kontraknya US$ 100-150 per proyek. “Para operator ini ada yang beli kontan, ada juga yang memasukkannya ke dalam operational expenditure,” kata Boy.
Selain operator telekomunikasi, yang membutuhkan call centerdi antaranya kalangan perbankan, asuransi, dan industri yang punya banyak pelanggan. Saat ini, semua operator telekomunikasi pernah menggunakan layanannya. Begitu juga beberapa bank besar seperti Bank Niaga (sebelum bergabung dengan Lippobank), Bank Muamalat dan Bank Bukopin. “Pada prinsipnya semua jenis usaha membutuhkan contact system. Sebab, sistem ini dirancang untuk mengelola proses bisnis antara pelanggan dan perusahaan, dimulai dengan proses suspecting, prospecting, deal, hingga after sales,” Boy menjelaskan.
Dari pengalaman tersebut, Tel-Access mulai menguasai teknologinya. Beberapa jenis sistem diimplementasikan untuk mereka, antara lain call center, billing info, voice mail system, conference system calling card system. “Yang menjadi kebanggaan, pada saat itu kamilah satu-satunya perusahaan yang mengembangkan sistem itu sendiri di dalam negeri dengan tenaga engineer . Selain bisa menekan biaya produksi, kami juga bisa menyesuaikan sistemnya dengan kebutuhan para klien,” ujar Boy bangga.
Bahkan, diklaim Boy, Tel-Access merupakan perusahaan pertama yang membuat sistem VoIP (Voice Internet Protocol) di Indonesia, yakni tahun 1998. Tel-Access mendapatkan proyek implementasi telepon berbasis Internet yang berbiaya murah itu dari Telkom. Sayangnya, belakangan sistem VoIP ini terhambat aspek aturan hukum.
Memasuki tahun 2000-an, ketika layanan telekomunikasi seluler semakin dikenal oleh masyarakat di Indonesia, Tel-Access mulai mengembangkan solusi mobile intelligent network, merupakan jantung teknologi seluler. Bahkan, Tel-Access mampu mengembangkan teknologi ini — dimanfaatkan oleh Kepolisian RI — untuk mendeteksi lokasi para penjahat atau teroris, dengan cara melacak lokasi telepon seluler mereka. Untuk mengembangkan teknologi mobile intelligent networkini, dana yang dibenamkan mencapai Rp 1 miliar. Diyakini Boy, solusi ini akan terus berkembang dengan semakin luasnya pemanfaatan ponsel.
Kejelian Boy dalam menangkap peluang tak berhenti di situ. Tingginya pemakaian SMS oleh pelanggan di Tanah Air dijadikan peluang untuk mengembangkan sistem Short Message Service Center (SMSC). Melalui layanan SMSC ini, para operator seluler bisa mengirimkan sampai dengan puluhan juta SMS setiap hari tanpa mengganggu kapasitas SMS di antara pelanggan. “Sistem ini sangat efektif bagi operator untuk memperkenalkan layanan mereka,” ujar Boy menegaskan.
Begitu pula, Boy memprediksi, ke depan pemanfaatan teknologi ponsel akan terus berkembang, mulai dari voice, data, hingga multimedia. Ia memperkirakan, semua operator sedang mengarah ke multimedia. Jadi, tidak hanya jasa telepon lagi, tetapi juga jasa akses Internet, televisi, sampai periklanan. Nah, untuk menangkap peluang itu, Tel-Access pun menawarkan solusi mobile advertising yang diramalkan akan menjadi bidang pertumbuhan baru dalam bisnis seluler. “Tel-Access telah berpengalaman dalam implementasi sistem mobile network yang menjadi jantung dari platform mobile advertising,” kata ayah Debra Mazaya (8 tahun) dan Zhillan Bariq Gann (4 tahun) ini.
Menurut Boy, m-advertising menjadi menarik karena penyebaran ponsel semakin luas di masyarakat. Mengingat besarnya jumlah penggunanya dewasa ini, ponsel pun sangat mungkin menjadi media yang paling banyak penggunanya di masa mendatang. Informasi iklan yang ingin disampaikan bisa kapan saja dan di mana saja karena bersifat mobile. Diklaim Boy, Tel-Access mempunyai teknologi m-advertising yang dapat mengirimkan pesan iklan bervariasi, mulai dari voice, SMS, MMS, WAP, Web, hingga videoklip. Karenanya, teknologi m-advertising yang dikembangkan akan dapat melayani seluruh pelanggan mulai dari yang menggunakan ponsel sederhana hingga yang paling canggih. “Kami juga dapat mengirimkan pesan iklan tersebut berdasarkan lokasi terkini pelanggan, sehingga untuk pertama kalinya iklan akan dapat dikirimkan sesuai dengan pergerakan masyarakat,” kata pehobi sepeda gunung ini.
Platform teknologi untuk m-advertising yang dikembangkan Tel-Access ini, menurut Boy, nantinya bisa dipakai untuk bekerja sama dengan pemilik database atau perusahaan agensi iklan yang punya profil pelanggan. Kini, Indosat dan XL telah menggunakan solusi m-advertising dari Tel-Access ini. Secara keseluruhan, hampir semua operator seluler di Indonesia menjadi kliennya, di antarnaya XL, Telkom, Indosat, Bakrie Telecom, Ratelindo, Komselindo, Telesera dan Infomedia. Juga, beberapa operator telekomunikasi negara tetangga, termasuk Celcom (Malaysia) dan Intex (Filipina). Adapun pelanggannya di industri perbankan lokal, yakni Bank Niaga (sebelum gabung dengan Lippobank), Citibank dan Bank Muamalat. Rata-rata, diklaim Boy, bisnis Tel-Access tumbuh 30% setiap tahun. Bahkan, pada 2009 ia menyebut pertumbuhannya lebih dari 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini disebabkan lonjakan jumlah pelanggan seluler di Indonesia.
Diakui Boy, sejauh ini bisnisnya berjalan mulus. Menurutnya, masa sulit terjadi pada saat pecah kongsi. Karena perbedaan pandangan, dua rekannya memutuskan pisah tahun 2004. Kini, Tel-Access dikendalikan Boy dan kolega lamanya, Hermansyah, yang bertindak sebagai dirut, dibantu 32 karyawan.
Boy menyebutkan, persaingan tidak menjadi kendala. Terlebih, ia tak punya pesaing lokal. Masalahnya justru belum cukup kuatnya kepercayaan konsumen terhadap produk dan layanan pemain lokal seperti Tel-Access.
Menurut Boy, kunci suksesnya selama ini karena pihaknya tidak overpromise kepada pelanggan. Prinsipnya, selama melakukan apa yang dijanjikan, pelanggan akan terus percaya. Ia juga selalu menanamkan semangat pada karyawan bahwa kemajuan perusahaan tergantung pada manusia di dalamnya. “Kami juga mengapresiasi karyawan yang berprestasi,” ucap Boy. “Misalnya, memberikan bonus jalan-jalan ke luar negeri.”
Kepiawaian Boy dalam menggelindingkan roda bisnis diakui koleganya, Hermansyah. Menurutnya, Boy memang punya bakat kuat dalam dunia bisnis. Sementara Hermansyah lebih berperan di sisi teknologinya. “Kalkulasi bisnisnya (Boy) betul-betul akurat. Teknologi tidak hanya diserap begitu saja, tetapi (dipertimbangkan) laku atau tidak,” ungkap Hermansyah.
Selain itu, lanjut Hermansyah, koleganya itu merupakan sosok pribadi yang tegas. Ia juga merasakan karakter itu dibutuhkan untuk mengambil keputusan bisnis. Tampaknya, antara Boy dan Hermansyah saling mem-back up, dengan prinsip saling percaya.
Ungkapan senada dikemukakan mitra bisnis Boy. Aang Koesmanggala, General Manager – Head of Network Roll Out Jabodetabek I Banten dan Jawa Barat PT Natrindo Telepon Selular, menilai Boy sebagai orang yang konsisten melakukan usaha di bidang yang termasuk high profile, high competition. Padahal, persaingannya dengan produk dan aplikasi yang sama dari luar negeri. “Di masa sulit sekalipun, Boy tetap menunjukkan keseriusannya untuk membina dan mengembangkan tenaga-tenaga muda programmer, untuk tetap berkarya dan berinovasi menghasilkan produk dan aplikasi baru,” ujar Aang.
“Saya kenal Boy sejak masuk kuliah di ITB,” kata Aristo Lystiono. Menurut Aristo, Boy itu orang yang sangat ulet, dan bakat bisnisnya sudah terlihat sejak masih mahasiswa. “Salah satu kekuatan Boy adalah bisa membangun basis networking yang kuat, sehingga sangat mendukung dan membesarkan kegiatan bisnisnya,” ujar GM IT Network Operations Center PT Bakrie Telecom itu. “Yang perlu ditingkatkan, jika memang sudah confident terhadap produknya, sebaiknya mulai bergerak ke arah high-profile campaign. Jadi, sudah saatnya mengumumkan semua portofolio produk secara high profile,” Aristo menyarankan. (SWA)

http://arifh.blogdetik.com/kisah-sukses-boy-hidayat-lubis/

profil wirausaha

Pramono - Raja Ayam Bakar Mas Mono

E-mail Cetak PDF
Sepuluh Tahun :  Modal Rp500 Ribu Menjadi Rp 5 Miliar 
Bagian ke 1 
Jika hari ini anda masih mendorong gerobak sendiri, berjualan kaki lima dipinggir jalan, terkena panas, dan kehujanan, jangan menyerah dan putus asa. Anda masih memiliki harapan untuk sukses selama anda memiliki kemauan dan keinginan untuk sukses. Seperti yang dilakukan Achmad Pramono (35), atau biasa disebut Mas Mono ini.  
Perjalanan bisnis pria kelahiran Madiun, Jawa Timur , yang membuka  usaha warung makan Ayam Bakar Mas Mono sengaja kami tampilkan dalam edisi kali ini untuk memberikan semangat baru  bagi para pebisnis pemula yang memulai usaha dari bawah, dari usaha kaki lima untuk melihat jejaknya. 
Lahir dari keluarga yang pas-pasan, selepas lulus SMA di Madiun, Jawa Timur,  Mono muda berharap suatu saat dapat mereguh sukses, setidaknya dapat hidup berkecukupan seperti yang diharapkan banyak orang. Tekadnya kuat, keinginannya besar , dan mimpinya ia gantungkan setinggi langit. 
“Jika orang lain bisa sukses, pasti saya juga bisa mencapainya,” ujar anak kedelapan yang kini menjadi mentor utama Entrepreneur University ini. 
Langkah pertama yang ia lakukan adalah bekerja apa saja, belajar apa saja sepanjang itu bermanfaat. Mula-mula ia, karena ketiadaan pekerjaan selepas lulus SMA, terpaksa rela menerima tugas menjadi tenaga voluntir panitia pembangunan masjid untuk meminta bantuan  kepada para penumpang di bis kota. 
“Waktu itu saya membawa kotak amal di bus-bus kota menjadi sukarelawan pembangunan masjid. Itu saya lakukan dengan tulus ihklas, daripada nganggur,” ujar ayah satu anak ini. 
Memulai Bisnis Dari Kecil 
Perjalanan kehidupan Mas Mono dan pencariannya menuju sukses  terbilang unik. Seperti  kebanyakan anak daerah yang masih katrok, tahun 1994 Mas Mono mencoba mengikuti arah zaman, mengikuti jejak salah satu familinya yang telah lebih dahulu mengadu nasib ke ibukota, Jakarta. 
Karena hanya berbekal ijasah SMA, biasanya lowongan yang  ada di perkantoran paling  banter  yang tersedia untuknya kalau tidak menjadi satpam, ya menjadi office boy. Ia memilih mencoba menjadi office boy  di perusahaan swasta  yang menerimanya dengan harapan masih memiliki waktu untuk belajar banyak kepada karyawan lainnya. 
“Setidaknya saya memiliki waktu untuk belajar mengetik komputer, kalau itu diperbolehkan. Karena sepengetahuan saya  karyawan yang memiliki ketrampilan lebih, gajinya lebih gede. Apalagi jika ketrampilannya ini sangat khusus,” cetusnya. 
Perjalanan sebagai office boy dilaluinya dengan baik. Malah ia termasuk karyawan yang cepat naik pangkat karena untuk mencapai jenjang supervisor pun dilalui tidak terlalu lama. Kuncinya, menurut Mas Mono, mau belajar. 
Sebagai seorang yang menginginkan hidupnya berkecukupan,  dan berharap dapat membantu sebanyak-banyaknya orang,  Mas Mono berfikir mustahil dapat dilakukan jika masih tetap menjadi seorang karyawan. Ia memiliki tekad menjadi seorang pengusaha, namun bagaimana caranya, bagaimana memulainya. Modalpun ia tak punya. Namun hal itu terus dipikirkan mendalam, sehingga menjadi tekad kuat untuk meraihnya. 
Berbekal keinginannya yang kuat itulah Mas Mono awal tahun 2001 keluar dari pekerjaannya, kemudian memilih untuk menjadi pewirausaha mandiri. Keputusan yang singkat, yang hanya didasari oleh keinginnya bahwa menjadi pewirausaha memiliki peluang lebih banyak untuk kaya jika dibandingkan menjadi seorang supervisor di kantornya. 
Setelah keluar dari pekerjaannya, ia memilih menjadi penjual gorengan. Selain modalnya kecil, gorengan sepertinya jenis makanan yang  masih banyak orang yang menyukainya. Suka duka berjualan gorengan telah ia lalui. Ada kalanya laku, ada kalanya gorengannya lama terjual, sehingga tidak jarang ia berkeliling ke gang-gang sempit di kawasan  Pancoran- Tebet,  Jakarta Selatan sambil berjalan mendorong gerobaknya. Peluh dan keringat tak pernah kering,  sampai larut tiba, hasilnyapun tak banyak-banyak amat. 
“Pernah dagangan gorengan saya tidak laku. Mau pulang malu, akhirnya saya jajakan ber jam-jam lamanya. Begitu dagangan habis saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Kalau tidak laku juga, sering dagangan saya umpetin karena malu dilihat tetangga,” ujarnya.  
Melihat nasib Mas Mono yang demikian getir, dari supervisor kantor menjadi pedagang gorengan, banyak kenalannya, termasuk saudara dan familinya di Jakarta yang prihatin dengan nasibnya. 
“Ngapain Mono cari ulah. Sudah enak-enak kerja kantoran malah keluar,” begitu gerutunya. 
Satu hal yang diyakini Mono tentang hidup adalah perubahan. Manusia, lanjutnya, dapat berubah nasibnya jika ia sendiri memiliki semangat, kemauan dan tindakan untuk berubah 
“Sepanjang kita sudah melakukan tiga hal di atas, maka Tuhan akan melakukan campur tangan terhadap nasib seseorang. Artinya, jika kita memiliki keinginan, kemauan  dan kita bekerja keras untuk mencapainya, Tuhan memiliki kehendak untuk mengubahnya  ,” lanjut suami dari Nunung yang berperawakan gempal ini. 
Perubahan itu sedikit demi sedikit mulai terlihat. Ia yang semula susah mendapatkan tempat berjualan akhirnya mendapatkan lokasi yang menurutnya strategis, sebuah lapak tempat berjualan di Depan Kampus Universitas Sahid, Jalan Supomo, Jakarta Selatan. 
Dari lapak kecil inilah cerita itu bergulir.  Ia yang semula berjualan gorengan mencoba berjualan ayam bakar. Mengapa ayam bakar?. Saat itu menu ayam bakar banyak digandrungi orang. Restoran yang mempunyai menu ayam bakar juga dibanjiri pembeli. 
“Saya terinspirasi oleh kesuksesan sebuah restoran nasional yang menjual ayam bakar,” ujarnya.
Tidak ada pengalaman, tidak pernah berjualan ayam bakar, dan belum mengetahui bagaimana menyajikan menu ayam bakar yang benar, tidak membuat  Mas Mono ragu-ragu untuk memulai bisnis ini. Justru ia nekad saja memulainya. Sepanjang orang masih suka makan ia yakin dagangan ayam bakarnya laku. Sampai-sampai modal yang hanya Rp500ribu di awal usahanya,  kini menjadi Rp5 miliar dan terus bertambah setiap saat. 
Bagaimana  caranya Mas Mono membangun bisnis sehingga melipatgandakan usaha kaki lima ?Ikuti  WK edisi depan, ekslusif untuk anda.

Ayam Bakar Mas Mono
Jl Tebet  Raya No57, Jakarta Selatan
Telepon/Faks 021-8350847
Email : mas_mono08@yahoo.com

http://www.majalahwk.com/artikel-artikel/teropong-usaha/321-artikel-artikel.html
Kisah perjalanan hidup A Pramono (34) mirip cerita sinetron. Belasan tahun lalu, ketika pria kelahiran Madiun ini mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta, ia memulainya dengan menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu ia beralih menjadi pedagang ayam bakar di pinggir jalan. Ternyata sukses. Kini Pramono sudah menjadi miliarder yang memiliki banyak usaha. Siapa yang tidak ngiler? “Kalau cerita saya dibikin sinetron mungkin akan menarik,” kata pria pemilik usaha Ayam Bakar Mas Mono ini ketika bercakap cakap dengan Warta Kota di salah satu kedainya di Jalan Tebet Raya No 57, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Namun, ayah satu anak yang akrab dipanggil Mas Mono ini buru buru menambahkan bahwa sukses bisa diraihnya setelah melewati proses yang cukup panjang. la meyakini, dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang instan. Artinya, kalau ingin sukses mesti lewat perjuangan.
“Orang tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu, ketika memulai usaha ini saya harus ke pasar jam tiga dinihari. Jam empat subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur,” ujar Pramono.
Awalnya, suami Nunung ini berjualan ayam bakar di pinggir Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, persisnya di seberang Universitas Sahid. Di tempat itu, setiap hari-kecuali hari libur dia menggelar tenda, bangku dan meja untuk berdagang.
Dengan memakai kaus, celana gombrang dan sandal jepit, dia setia melayani pembeli yang datang dari pagi sampai pukul 14.00. Sebagian pembelinya adalah mahasiswa dan orang kantoran yang bekerja di wilayah tersebut.
“Tapi ya namanya dagang kaki lima, ada gilirannya. Saya dagang dari pagi sampai siang. Dagangan habis nggak habis saya harus tutup. Lalu, jam 14.00 diganti pedagang lain yang menjual nasi goreng, pecel lele dan seafood,” tutur Pramono sambil memperlihatkan foto lamanya di laptop.
Pria yang menamatkan S3 (maksudnya tamat SD, SMP, SMA) di Madiun ini belakangan akrab dengan laptop karena dia menjadi salah seorang mentor nasional dari Entrepreneur University (EU). Foto-foto lamanya itu menjadi salah satu bahan presentasinya ketika membawakan materi tentang wirausaha.
Menurut Pramono, sejak dulu dia suka fotografi tapi hanya sebatas hobi. Bukan karena dia tahu akari sukses. Jika diamati, foto Pramono saat masih berjualan di pinggir jalan dan saat ditemui Warta Kota beberapa hari lalu, memang berbeda jauh. Dulu dia terlihat kurus, sekarang tampak macho dan keren.
“Ya, bedalah Mas. Dulu tidak terawat, sekarang terawat. Dulu nggak punya tabungan,sekarang tabungan banyak di bank,” ujarnya sambil menunjukkan tabungannya yang pernah mencapai persis Rp 1 miliar.
Senang belajar
Salah satu kebiasaan positif yang dimiliki Pramono dan sangat memberi inspirasi adalah kesenangannya belajar sesuatu yang baru untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tahun 1999, ketika menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta, Pramono selalu memanfaatkan,waktu luangnya dengan belajar komputer. Bukan bermain bermain game seperti kebanyakan orang. Sebab dia tahu, dengan menguasai keterampilan itu kariernya bisa naik dan gajinya juga akan lebih besar.
Pramono benar, karena kariernya terus meningkat hingga akhirnya diangkat menjadi supervisor. Meski jabatannya cukup tinggi tapi dia terus tertantang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Cita-citanya cuma satu, bagaimana caranya lebih membahagiakan orang-orang yang dicintai, keluarga dan orangtuanya.
Akhirnya, tahun 2001 dia keluar dart perusahaan tersebut dan memulai usaha dengan berjualan gorengan keliling di seputar,wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Langkahnya rada ekstrem. Sebab, bagi Pramono, untuk memulai usaha tidak perlu banyak berpikir, apalagi menghitung rugi laba. Yang terpenting adalah melakukan action.
“Banyak saudara saya yang tidak terima dengan keputusan itu. Apalagi pada awal-awal berdagang, omzetnya baru Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per hari,” ujarnya.
Meski menghadapi banyak tantangan, Pramono tidak mau mundur. Sampai akhirnya dia mendapat lapak kosong di seberang Universitas Sahid. Dengan modal Rp 500.000 untuk membeli gerobak dan peralatan lainnya, termasuk ayam lima ekor, Pramono membuka lembaran barunya dengan menjual ayam bakar. Namun karena belum mahir mendorong gerobak, pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam tersebut harus dibersihkan dulu.
“Kalau orang lain mungkin sudah mikir macam-macam. Wah ini tanda sepi, nggak laku, karena baru mau jualan ayamnya sudah jatuh, sial. Namun, kalau saya justru berpikir lain. Wah, ini pertanda bagus, dagangan saya bakal laku. Sebab, saya menggunakan otak kanan. Selalu optimis dan percaya dirt,” tegas Pramono.
Terlepas dart peristiwa itu, beberapa tahun kemudian usaha Ayam Bakar Mas Mono berkembang pesat. Dia mempunyai 13 cabang dan dalam satu hari bisa menjual 1.000 ekor ayam. “Sampai sekarang saya merasa seperti mimpi. Kok bisa ya,” kata Pramono. (hes/Warta Kota)
http://ayambakarmasmono.wordpress.com/

profil wirausaha

Biografi Bob Sadino - Pengusaha Sukses Dari Indonesia

Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.


Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.

Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.

Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam

Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)

Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)

Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981

Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618

Jumat, 08 Oktober 2010

profil wirausaha

Aburizal Bakrie
Born 15 November 1946 (1946-11-15) (age 63)
Jakarta, Indonesia
Nationality Indonesian
Occupation Chairman of Bakrie & Brothers
Net worth US$2.5 billion (2009)[1]
Title Golkar Party Chairman
Term 2009–present
Predecessor Jusuf Kalla
Political party Golongan Karya
Religion Islam
Spouse Tatty Murnitriati
Children Anindya Noverdian Bakrie
Anindhita Anestya Bakrie
Anindra Ardiansyah Bakrie


Bisnis keluarga
Bakrie lahir di Jakarta pada tanggal 15 November 1946. Dia menghadiri Institut Teknologi Bandung di mana ia memperoleh gelar sarjana di bidang teknik elektro pada tahun 1973. Pada tahun 1972 bergabung dengan PT Bakrie & Brothers Tbk - konglomerat didirikan oleh ayahnya Ahmad Bakri -. Yang makmur selama rezim Soeharto [2] Grup Bakrie melakukan usaha di bidang pertanian, real estat, perdagangan, perkapalan, perbankan, asuransi, media , manufaktur, konstruksi, dan pertambangan. Aburizal Bakrie, anak sulung dari empat bersaudara, adalah ketua dari perusahaan keluarga 1999-2004. Konglomerat Bakrie masuk ke utang dalam setelah krisis ekonomi tahun 1998 Asia dan selamat hanya setelah proses refinancing pada tahun 2000. [3] refinancing ini memungkinkan keluarga Bakrie untuk mempertahankan kontrol atas konglomerat. [Sunting] kantor Publik
Pada tahun 2004 bernama Bakrie Menko Perekonomian di Indonesia [4] Ini pengangkatan oleh presiden yang direncanakan untuk memerangi korupsi. Dipandang dengan pemesanan tertentu. [5] Selanjutnya Aburizal Bakrie telah disalahkan untuk pembangunan ekonomi miskin dan nepotisme bisnis. [6] Setelah reshuffle kabinet pada tahun 2005, ia menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
Sebelumnya jabatan presiden termasuk ASEAN Business Forum selama dua periode berturut-turut dari 1991 sampai 1995, dan pimpinan Kamar Dagang Indonesia dan Industri (Kadin) selama dua periode berturut-turut 1994-2004. [4] Sebagai anggota Golkar pihak Bakrie tidak berhasil bersaing untuk menjadi calon Golkar untuk presiden pada tahun 2004;. akhirnya Jenderal Wiranto menjadi calon partai [7]
Ia terpilih sebagai ketua Partai Golkar di Kongres Partai Golkar 2009 di Pekanbaru, Riau, Indonesia setelah mengalahkan Surya Paloh, Yuddy Chrisnandi dan Hutomo Mandala Putra. Pada bulan Mei tahun 2010, ia berhasil dibentuk dan terpilih pemimpin koalisi mayoritas di parlemen dengan pihak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sekitar waktu yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengundurkan diri untuk menerima tawaran untuk menjadi Managing Director Bank Dunia di Washington, DC. Hal ini terjadi setelah kampanye politik selama setahun yang dipimpin oleh pihak Mr Bakrie untuk mengusir dia dan Wakil Presiden Budiono untuk kejanggalan yang dituduhkan dalam bailout Bank Century selama krisis keuangan tahun 2008 di seluruh dunia. Dalam kuliah umum nya di almamater-nya Universitas Indonesia setelah pengunduran dirinya, Sri Mulyani berbicara blak-blakan dari tekanan untuk mempengaruhi keputusan dirinya sebagai Menteri Keuangan, oleh makhluk politik yang "sesama jenis menikah". Pada periode waktu yang sama, telah terjadi investigasi yang sedang berlangsung terhadap perusahaan Mr Bakrie untuk menghindari pajak. [Sunting] aliran lumpur Sidoarjo Artikel utama: aliran lumpur Sidoarjo
Pada bulan Mei 2006, sebuah lubang pengeboran di Porong, Sidoarjo yang dilakukan tanpa casing pelindung oleh PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan dari konglomerat Bakrie, mulai rilis terus menerus lumpur panas, gunung berapi mungkin lumpur, yang membuat orang kehilangan tempat tinggal dan mengancam ekonomi lokal di Jawa Timur. Meskipun tidak secara resmi menjalankan bisnis keluarga sejak bergabung kabinet, Bakrie menerima protes oleh lingkungan dalam melihat kerusakan yang dilakukan oleh perusahaan keluarganya [8] rencana penjualan Lapindo Brantas sebesar $ 2 ke lepas pantai perusahaan pada bulan September 2006. dipandang sebagai upaya untuk mengurangi eksposur keuangan untuk keluarga Bakrie [9] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendesak. Lapindo untuk membayar Rp 2,5 triliun (sekitar USD 250 juta) untuk lebih dari 10.000 warga yang telah dislokasi oleh aliran lumpur. [10] Pada Juni 2009, warga telah menerima kurang dari 20% dari kompensasi yang disarankan.