Pramono - Raja Ayam Bakar Mas Mono
Sepuluh Tahun : Modal Rp500 Ribu Menjadi Rp 5 Miliar
Bagian ke 1
Jika hari ini anda masih mendorong gerobak sendiri, berjualan kaki lima dipinggir jalan, terkena panas, dan kehujanan, jangan menyerah dan putus asa. Anda masih memiliki harapan untuk sukses selama anda memiliki kemauan dan keinginan untuk sukses. Seperti yang dilakukan Achmad Pramono (35), atau biasa disebut Mas Mono ini.
Perjalanan bisnis pria kelahiran Madiun, Jawa Timur , yang membuka usaha warung makan Ayam Bakar Mas Mono sengaja kami tampilkan dalam edisi kali ini untuk memberikan semangat baru bagi para pebisnis pemula yang memulai usaha dari bawah, dari usaha kaki lima untuk melihat jejaknya.
Lahir dari keluarga yang pas-pasan, selepas lulus SMA di Madiun, Jawa Timur, Mono muda berharap suatu saat dapat mereguh sukses, setidaknya dapat hidup berkecukupan seperti yang diharapkan banyak orang. Tekadnya kuat, keinginannya besar , dan mimpinya ia gantungkan setinggi langit.
“Jika orang lain bisa sukses, pasti saya juga bisa mencapainya,” ujar anak kedelapan yang kini menjadi mentor utama Entrepreneur University ini.
Langkah pertama yang ia lakukan adalah bekerja apa saja, belajar apa saja sepanjang itu bermanfaat. Mula-mula ia, karena ketiadaan pekerjaan selepas lulus SMA, terpaksa rela menerima tugas menjadi tenaga voluntir panitia pembangunan masjid untuk meminta bantuan kepada para penumpang di bis kota.
“Waktu itu saya membawa kotak amal di bus-bus kota menjadi sukarelawan pembangunan masjid. Itu saya lakukan dengan tulus ihklas, daripada nganggur,” ujar ayah satu anak ini.
Memulai Bisnis Dari Kecil
Perjalanan kehidupan Mas Mono dan pencariannya menuju sukses terbilang unik. Seperti kebanyakan anak daerah yang masih katrok, tahun 1994 Mas Mono mencoba mengikuti arah zaman, mengikuti jejak salah satu familinya yang telah lebih dahulu mengadu nasib ke ibukota, Jakarta.
Karena hanya berbekal ijasah SMA, biasanya lowongan yang ada di perkantoran paling banter yang tersedia untuknya kalau tidak menjadi satpam, ya menjadi office boy. Ia memilih mencoba menjadi office boy di perusahaan swasta yang menerimanya dengan harapan masih memiliki waktu untuk belajar banyak kepada karyawan lainnya.
“Setidaknya saya memiliki waktu untuk belajar mengetik komputer, kalau itu diperbolehkan. Karena sepengetahuan saya karyawan yang memiliki ketrampilan lebih, gajinya lebih gede. Apalagi jika ketrampilannya ini sangat khusus,” cetusnya.
Perjalanan sebagai office boy dilaluinya dengan baik. Malah ia termasuk karyawan yang cepat naik pangkat karena untuk mencapai jenjang supervisor pun dilalui tidak terlalu lama. Kuncinya, menurut Mas Mono, mau belajar.
Sebagai seorang yang menginginkan hidupnya berkecukupan, dan berharap dapat membantu sebanyak-banyaknya orang, Mas Mono berfikir mustahil dapat dilakukan jika masih tetap menjadi seorang karyawan. Ia memiliki tekad menjadi seorang pengusaha, namun bagaimana caranya, bagaimana memulainya. Modalpun ia tak punya. Namun hal itu terus dipikirkan mendalam, sehingga menjadi tekad kuat untuk meraihnya.
Berbekal keinginannya yang kuat itulah Mas Mono awal tahun 2001 keluar dari pekerjaannya, kemudian memilih untuk menjadi pewirausaha mandiri. Keputusan yang singkat, yang hanya didasari oleh keinginnya bahwa menjadi pewirausaha memiliki peluang lebih banyak untuk kaya jika dibandingkan menjadi seorang supervisor di kantornya.
Setelah keluar dari pekerjaannya, ia memilih menjadi penjual gorengan. Selain modalnya kecil, gorengan sepertinya jenis makanan yang masih banyak orang yang menyukainya. Suka duka berjualan gorengan telah ia lalui. Ada kalanya laku, ada kalanya gorengannya lama terjual, sehingga tidak jarang ia berkeliling ke gang-gang sempit di kawasan Pancoran- Tebet, Jakarta Selatan sambil berjalan mendorong gerobaknya. Peluh dan keringat tak pernah kering, sampai larut tiba, hasilnyapun tak banyak-banyak amat.
“Pernah dagangan gorengan saya tidak laku. Mau pulang malu, akhirnya saya jajakan ber jam-jam lamanya. Begitu dagangan habis saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Kalau tidak laku juga, sering dagangan saya umpetin karena malu dilihat tetangga,” ujarnya.
Melihat nasib Mas Mono yang demikian getir, dari supervisor kantor menjadi pedagang gorengan, banyak kenalannya, termasuk saudara dan familinya di Jakarta yang prihatin dengan nasibnya.
“Ngapain Mono cari ulah. Sudah enak-enak kerja kantoran malah keluar,” begitu gerutunya.
Satu hal yang diyakini Mono tentang hidup adalah perubahan. Manusia, lanjutnya, dapat berubah nasibnya jika ia sendiri memiliki semangat, kemauan dan tindakan untuk berubah
“Sepanjang kita sudah melakukan tiga hal di atas, maka Tuhan akan melakukan campur tangan terhadap nasib seseorang. Artinya, jika kita memiliki keinginan, kemauan dan kita bekerja keras untuk mencapainya, Tuhan memiliki kehendak untuk mengubahnya ,” lanjut suami dari Nunung yang berperawakan gempal ini.
Perubahan itu sedikit demi sedikit mulai terlihat. Ia yang semula susah mendapatkan tempat berjualan akhirnya mendapatkan lokasi yang menurutnya strategis, sebuah lapak tempat berjualan di Depan Kampus Universitas Sahid, Jalan Supomo, Jakarta Selatan.
Dari lapak kecil inilah cerita itu bergulir. Ia yang semula berjualan gorengan mencoba berjualan ayam bakar. Mengapa ayam bakar?. Saat itu menu ayam bakar banyak digandrungi orang. Restoran yang mempunyai menu ayam bakar juga dibanjiri pembeli.
“Saya terinspirasi oleh kesuksesan sebuah restoran nasional yang menjual ayam bakar,” ujarnya.
Tidak ada pengalaman, tidak pernah berjualan ayam bakar, dan belum mengetahui bagaimana menyajikan menu ayam bakar yang benar, tidak membuat Mas Mono ragu-ragu untuk memulai bisnis ini. Justru ia nekad saja memulainya. Sepanjang orang masih suka makan ia yakin dagangan ayam bakarnya laku. Sampai-sampai modal yang hanya Rp500ribu di awal usahanya, kini menjadi Rp5 miliar dan terus bertambah setiap saat.
Bagaimana caranya Mas Mono membangun bisnis sehingga melipatgandakan usaha kaki lima ?Ikuti WK edisi depan, ekslusif untuk anda.
Ayam Bakar Mas Mono
Jl Tebet Raya No57, Jakarta Selatan
Telepon/Faks 021-8350847
Email : mas_mono08@yahoo.com
Namun, ayah satu anak yang akrab dipanggil Mas Mono ini buru buru menambahkan bahwa sukses bisa diraihnya setelah melewati proses yang cukup panjang. la meyakini, dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang instan. Artinya, kalau ingin sukses mesti lewat perjuangan.
“Orang tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu, ketika memulai usaha ini saya harus ke pasar jam tiga dinihari. Jam empat subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur,” ujar Pramono.
Awalnya, suami Nunung ini berjualan ayam bakar di pinggir Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, persisnya di seberang Universitas Sahid. Di tempat itu, setiap hari-kecuali hari libur dia menggelar tenda, bangku dan meja untuk berdagang.
Dengan memakai kaus, celana gombrang dan sandal jepit, dia setia melayani pembeli yang datang dari pagi sampai pukul 14.00. Sebagian pembelinya adalah mahasiswa dan orang kantoran yang bekerja di wilayah tersebut.
“Tapi ya namanya dagang kaki lima, ada gilirannya. Saya dagang dari pagi sampai siang. Dagangan habis nggak habis saya harus tutup. Lalu, jam 14.00 diganti pedagang lain yang menjual nasi goreng, pecel lele dan seafood,” tutur Pramono sambil memperlihatkan foto lamanya di laptop.
Pria yang menamatkan S3 (maksudnya tamat SD, SMP, SMA) di Madiun ini belakangan akrab dengan laptop karena dia menjadi salah seorang mentor nasional dari Entrepreneur University (EU). Foto-foto lamanya itu menjadi salah satu bahan presentasinya ketika membawakan materi tentang wirausaha.
Menurut Pramono, sejak dulu dia suka fotografi tapi hanya sebatas hobi. Bukan karena dia tahu akari sukses. Jika diamati, foto Pramono saat masih berjualan di pinggir jalan dan saat ditemui Warta Kota beberapa hari lalu, memang berbeda jauh. Dulu dia terlihat kurus, sekarang tampak macho dan keren.
“Ya, bedalah Mas. Dulu tidak terawat, sekarang terawat. Dulu nggak punya tabungan,sekarang tabungan banyak di bank,” ujarnya sambil menunjukkan tabungannya yang pernah mencapai persis Rp 1 miliar.
Senang belajar
Salah satu kebiasaan positif yang dimiliki Pramono dan sangat memberi inspirasi adalah kesenangannya belajar sesuatu yang baru untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tahun 1999, ketika menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta, Pramono selalu memanfaatkan,waktu luangnya dengan belajar komputer. Bukan bermain bermain game seperti kebanyakan orang. Sebab dia tahu, dengan menguasai keterampilan itu kariernya bisa naik dan gajinya juga akan lebih besar.
Pramono benar, karena kariernya terus meningkat hingga akhirnya diangkat menjadi supervisor. Meski jabatannya cukup tinggi tapi dia terus tertantang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Cita-citanya cuma satu, bagaimana caranya lebih membahagiakan orang-orang yang dicintai, keluarga dan orangtuanya.
Akhirnya, tahun 2001 dia keluar dart perusahaan tersebut dan memulai usaha dengan berjualan gorengan keliling di seputar,wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Langkahnya rada ekstrem. Sebab, bagi Pramono, untuk memulai usaha tidak perlu banyak berpikir, apalagi menghitung rugi laba. Yang terpenting adalah melakukan action.
“Banyak saudara saya yang tidak terima dengan keputusan itu. Apalagi pada awal-awal berdagang, omzetnya baru Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per hari,” ujarnya.
Meski menghadapi banyak tantangan, Pramono tidak mau mundur. Sampai akhirnya dia mendapat lapak kosong di seberang Universitas Sahid. Dengan modal Rp 500.000 untuk membeli gerobak dan peralatan lainnya, termasuk ayam lima ekor, Pramono membuka lembaran barunya dengan menjual ayam bakar. Namun karena belum mahir mendorong gerobak, pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam tersebut harus dibersihkan dulu.
“Kalau orang lain mungkin sudah mikir macam-macam. Wah ini tanda sepi, nggak laku, karena baru mau jualan ayamnya sudah jatuh, sial. Namun, kalau saya justru berpikir lain. Wah, ini pertanda bagus, dagangan saya bakal laku. Sebab, saya menggunakan otak kanan. Selalu optimis dan percaya dirt,” tegas Pramono.
Terlepas dart peristiwa itu, beberapa tahun kemudian usaha Ayam Bakar Mas Mono berkembang pesat. Dia mempunyai 13 cabang dan dalam satu hari bisa menjual 1.000 ekor ayam. “Sampai sekarang saya merasa seperti mimpi. Kok bisa ya,” kata Pramono. (hes/Warta Kota)
http://ayambakarmasmono.wordpress.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar